Sembuh dari sakit?

New photo by Farida Purnaminingrum / Google Photos

Coba deh iseng-iseng nanya ke teman, kamu mau sakit?. Pasti jawabnya nggak mau. Kecuali dia jawab “Mau, tapi sakit karena kamu.” #ea.

Sehat itu nikmat, dan semua orang suka dengan kenikmatan. iya, apa iya?

Bagaimana seandainya kita terlahir dengan penyakit bawaan. Sepanjang hidup harus berdamai dengan sakit. Atau menderita cronic diseas yang butuh kekonsistenan berobat. Mau? ya nggak ada yang mau lah.

Tapi kalau sudah digariskan, berani protes?

Mendampingi pak suami, dengan segala keseruan, membuat saya belajar banyak. Bahwa sakit itu bisa juga dinikmati.

Keluar masuk rumah sakit, ada masa 2 minggu sekali bertemu para dokter yang baik hati, suster-suster yang berdedikasi. Check-in di kamar rawat inap. Antri air panas untuk membuat kopi pagi, ngobrol santai dengan para penunggu. Melihat banyak, mendapat hikmah tak terkira.

Jika anda sedang mengalami sakit, butuh waktu lama proses berobat, rutin keluar rumah sakit dan mulai bosan kapan sembuhnya. maka saya beri contekan managemen sakit ala pak suami. Ini dia :

– Menerima
Ada masa marah, protes, menolak, kenapa saya?. Semua masa itu memang harus dilewati. Pada periode biasanya kesakitan bukan malah berkurang tapi semakin menjadi.

Proses menerima membutuhkan waktu, pemahaman dan kerelaan. Ketika sudah menerima, biasanya kita tidak terlalu fokus di sakitnya. Bagaimana mendapat nilai plus dari sakit ini. “Sakit adalah penggugur dosa”, Tapi menerima sakit yang bagaimana?

– Pain Management
Yup, ini wajib kudu dikuasai. Di rumah sakit biasanya ada divisi managemen sakit. Kalau sakit seperti ini, bisa berkurang dengan apa?. Level kesakitan bagi penderita cronic diseas biasanya di atas orang normal. Dengan menguasai hal ini, kita bisa tahu kapan harus minum pain killer.

– Rumah sakit adalah rumah kedua
Hellow?.. Siapa sih yang mau keluar masuk rumah sakit, lihat piring makan nya aja sudah eneg.

Tapi jika diharuskan menyambangi rumah sakit, ya mau nggak mau harus membuatnya menjadi seperti rumah. Iya, rumah kedua.

Cari hal-hal yang menyenangkan disana, entah warung pojoknya yang sedia nasi bungkus enak. Atau masjidnya yang subuh berjamaah membuat merinding. Pokoknya cari!, sampai ketemu. Kalau enggak..dijamin bikin stress tambahan

Poin ke 2 ini khusus untuk pendamping si sakit, karena meski tidak sakit jika kita sendiri tidak menjaga kesehatan fisik dan psikis dijamin lama-lama bisa ikutan tumbang.

– Gabung dengan komunitas
Menemukan teman sependeritaan itu melegakan. Bahwa kita bukan “manusia termenderita sedunia”. Bisa banyak belajar dari perjuangan mereka, dan tentu saja ajang curhat paling ideal, karena kalau cerita ke orang sehat mereka kan tidak mengalami

Jadi, ketika sakit sudah menjadi nama belakang, maka satu-satunya jalan adalah berdamai.

Semoga ketika sakit hadir, bisa menjadikan kita lebih bersyukur..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *